Analisis Unsur Intristik pada Cerita
Pendek “Jim Baker’s Blue-Jay Yarn” karya Mark Twain
Oleh :
Nama : Ilham Maulana Firdaus
NIM : 1630911024
Program Studi : Sastra Inggris
Tingkat : V (Lima)
Universitas
Muhammadiyah Sukabumi
Jim
Baker’s Blue-Jay Yarn merupakan sebuah karya tulisan Mark Twain yang terdapat
pada chapter 3 dalam bukunya “A Tramp Abroad” yang diterbitkan pada tahun 1880.
Buku tersebut berisi kumpulan karya Twain, bergenre fiksi dan menceritakan
tentang kisah perjalanan sang penulis dan juga temannya Harris.
Cerita dari cerpen ini bagus,
meskipun pada bagian awal cerpen ini tidak begitu mudah untuk dipahami, namun
lama-kelamaan ceritanya mulai dapat menghibur para pembacanya karena mulai
munculnya bagian-bagian yang terdapat unsur humor dan ceritanya pun menjadi
cukup mudah untuk dimengerti. Selain itu, setelah membaca Jim Baker’s Blue-Jay
Yarn pembaca juga mendapatkan beberapa pengetahuan mengenai bagaimana perilaku
dari hewan-hewan yang mungkin belum diketahui oleh para pembaca.
1.
Alur Cerita/Plot
Unsur intristik pertama dalam
cerita pendek adalah Alur atau plot, alur adalah urutan peristiwa yang saling
menyambung atau dapat juga disebut “jalan cerita” dari sebuah cerita.
A.
Jenis
Alur/Plot
Jenis
Alur/Plot Cerita dalam cerpen ini adalah Plot campuran karena pada awalnya sang
narator menceritakan tentang kawannya bernama Jim Baker yang memiliki keahlian
unik yaitu dia dapat mengerti bahasa dan juga perilaku hewan. Lalu, setelah menjelaskan
secara detail mengenai kemampuan Baker tersebut melalui beberapa penjelasan
yang disertai percakapan tersebut, kemudian posisi narator diambil alih oleh
Baker. Selanjutnya, Baker menceritakan tentang kejadian yang dia saksikan
sendiri pada 7 tahun lalu (flashback), dia menceritakan alur ceritanya tersebut
dengan secara progresif/kronologis yaitu dari awal sampai akhir cerita.
B.
Struktur
Alur
Struktur
Alur terbagi menjadi 3 yaitu Alur awal, tengah, dan akhir yang masing-masingnya
mencakup beberapa bagian lain. Struktur alur yang terdapat didalam cerita
pendek ini adalah sebagai berikut :
1.)
Awal
a.)
Paparan
(Exposition)
Alur
cerita pendek ini dibuka dengan pengenalan tokoh utama yaitu Jim Baker oleh
sang Narator dan juga tentang kemampuan unik Baker yang dapat mengerti bahasa
dan perilaku dari bermacam jenis hewan. Narator menjelaskan tentang pengetahuan
Baker mengenai kemampuan berkomunikasi dari para hewan, khususnya Burung Blue-Jay
yang Baker anggap lebih spesial daripada hewan-hewan lainnya.
b.)
Rangsangan
(Inciting Moment)
Baker
kemudian mengambil alih posisi narator dan mulai menceritakan sebuah kejadian yang
disaksikannya sendiri pada tujuh tahun yang lalu mengenai sebuah insiden unik
dari kawanan Burung Blue-Jay yang dapat dia mengerti dikarenakan kemampuan yang
dimilikinya.
c.)
Gawatan
(Rising Action)
Pada
bagian awal cerita yang dia ungkapkan, Baker mengatakan bahwa dia melihat seekor
burung Blue-Jay yang bertengger pada atap dari sebuah rumah kayu kosong di
dekat rumahnya. Dia melihat Burung itu sedang memasukkan biji-bijian yang
dibawa si Blue-Jay pertama tersebut kedalam sebuah lubang yang terdapat
disekitar tempatnya bertengger untuk mengukur seberapa dalam lubang atap.
2.)
Tengah
a.)
Tikaian
(Conflict)
Setelah
sekitar dua jam dia mengisi lubang dengan biji-bijian namun masih belum bisa
membuat lubangnya penuh, si Blue-Jay pertama pun menjadi sangat kesal dan marah.
Meskipun begitu, si Blue-Jay masih terus pantang menyerah untuk menuntaskan
rasa penasarannya terhadap lubang itu hingga sampai-sampai jumlah biji yang telah
dimasukkannya telah mencapai 2 ton lebih.
b.)
Rumitan
(Complication)
Kemudian
datanglah beberapa Blue-Jay lain dan menghentikan Blue-Jay pertama untuk
bertanya apa yang sedang dilakukan olehnya, lalu setelah mendengarkan apa
sebenarnya yang terjadi, mereka kemudian memeriksa dan mengamati lubang
tersebut, lalu mereka pun memutuskan untuk memanggil burung Blue-Jay lain untuk
datang kesana.
c.)
Klimaks
(Climax)
Ada
banyak sekali burung Blue-Jay yang berada di atap maupun sekitar rumah, bahkan
apabila dihitung mungkin jumlahnya bisa mencapai lima ribu ekor lebih. Menurut
Baker, para kawanan Blue-Jay itu melakukan hal yang sama, yaitu saling
mengamati dan berdiskusi untuk memberikan pendapat terhadap misteri lubang yang
tidak bisa penuh itu.
Mereka
kemudian membagi kelompok untuk menyelidiki daerah sekitar rumah kayu tersebut.
Setelah menyelidiki di sekitar rumah, lalu seekor Blue-Jay tua melihat pintunya
sedikit terbuka dan dia pun memanggil Blue-Jay lain untuk masuk kedalamnya.
Kawanan Blue-Jay kemudian masuk kedalam rumah kayu bagaikan sebuah awan biru besar
karena jumlah mereka yang sangat banyak.
3). Akhir
a).
Leraian (Falling Action)
Setelah
masuk kedalam rumah kayu, mereka pun akhirnya menemukan alasan mengapa lubang itu
tidak bisa penuh karena didalam rumah kayu tidak ada apapun yang membatasi
antara bagian atap sampai dasarnya, hal tersebut membuat biji-bijian yang dimasukkan
kedalam lubang atap langsung jatuh ke lantai rumah. Setelah dapat memecahkan
misteri lubang itu, para kawanan Blue-Jay lalu keluar dari rumah kayu kemudian
hinggap di atap rumah kayu.
Di
atap rumah kayu, mereka semua langsung tertawa karena menganggap bahwa usaha dari
si Blue-Jay pertama untuk mengisi sebuah rumah kosong dengan biji-bijian
merupakan sebuah tindakan yang sangat konyol. Di sana mereka semua terus tertawa
selama satu jam lebih tak terkecuali si Blue-Jay pertama yang juga menganggap
kalau tindakannya itu sangat konyol.
b).
Selesaian (Denoument)
Setelah
kejadian itu, pada setiap musim panas selama tiga tahun para kawanan Burung
Blue-Jay tadi membawa Blue-Jay lain dari seluruh daerah Amerika untuk melihat
lubang di atap rumah kayu sambil mendengarkan kejadian konyol yang terjadi
disana. Para burung yang mereka bawa pun ikut tertawa setelah mendengar cerita
itu terkecuali seekor burung hantu asal Nova Scotia yang menganggap bahwa kejadian
itu tidak lucu sama sekali.
C.
Jenis
Plot Akhir
Fokus
dari plot cerita ini adalah tentang sebuah kejadian yang disaksikan sendiri
oleh Jim Baker yaitu insiden kawanan Blue-Jay yang penasaran terhadap lubang
pada atap rumah kayu yang tidak bisa penuh. Pada bagian menuju akhir cerita telah
disebutkan alasan mengapa hal itu bisa terjadi karena Burung Blue-Jay tadi
mencoba untuk mengisi penuh sebuah rumah kayu besar yang kosong dengan
biji-bijian. Maka dari itu, Alur/Plot akhir dari cerita ini adalah Close Plot
karena akhir ceritanya tidak menggantung dan semua inti permasalahan dalam
cerita ini telah terselesaikan.
2.
Konflik
(Conflict)
Selanjutnya,
mengenai konflik yang terdapat didalam Jim Baker’s Blue-Jay. Konflik merupakan
salah satu unsur yang penting didalam sebuah cerita, karena jika tidak ada
konfik maka sebuah cerita akan terkesan hambar dan tidak akan menarik. Konflik
dibagi menjadi tiga jenis, yaitu man againts man (manusia dengan manusia lain)
yaitu sebuah gesekan yang terjadi antara individu dengan individu lainnya, lalu
ada man againts himself yaitu konflik yang terjadi antara seorang individu
dengan dirinya sendiri, dan terakhir adalah man againts environment yaitu
konflik antara individu dengan linkungannya.
Konflik
yang terjadi didalam cerpen ini diantaranya adalah man againts environment dan man
againts himself. Meskipun yang terlibat didalam konflik bukanlah Narator
ataupun Jim Baker, akan tetapi si Blue-Jay pertama meskipun dia bukanlah
seorang manusia tetapi seekor burung namun bisa kita anggap kalau dia mengambil
peran sebagai “man” didalam konflik-konflik yang terjadi karena Baker menggambarkan
perilaku si Blue-Jay bagaikan seorang manusia.
A.
Man
Againts Environment
-
Blue-Jay
Pertama VS Lubang di Atap Rumah Kayu
Seperti
yang telah di sebutkan sebelumnya, meskipun si Blue-Jay adalah seekor burung
namun kita bisa memasukannya kedalam peran sebagai “man” karena dia menjadi
“tokoh utama” dalam cerita Baker. Baker menceritakan jika sumber utama
terjadinya kejadian yang dia saksikan pada tujuh tahun yang lalu itu adalah
seekor Blue-Jay yang awalnya memasukkan beberapa biji-bijian yang dia bawa
kedalam sebuah lubang yang terletak di atap rumah kayu untuk mengecek bagaimana
kedalamannya, namun dia masih belum bisa membuatnya penuh. Meskipun Si Blue-Jay
terus menerus memasukkan biji-bijian kedalam lubang, namun lubang itu masih
tidak bisa penuh juga dan hal itu membuatnya begitu kesal kepada lubang itu
lalu dia pun berkata kepada lubang kalau dia telah memasukkan biji-bijian yang
jumlahnya cukup untuk menjadi makanan bagi keluarganya selama 30 tahun. Setelah
itu dia mengatakan kalau dia masih belum bisa melihat biji-biji yang telah dimasukkannya,
dia berharap kalau dia dapat mendarat di sebuah museum yang penuh dengan serbuk
gergaji.
B.
Man
Againts Himself
-
Blue-Jay
Pertama VS Dirinya Sendiri
Karena
usahanya dalam mencoba untuk memasukkan biji-bijian yang sudah begitu banyak
kedalam lubang masih saja sia-sia, hal itu mengakibatkannya begitu merasa
sangat kesal dan marah. Dia kesal selain kepada lubang itu tapi juga dia kesal
dengan dirinya sendiri yang telah menyia-nyiakan waktunya dan juga banyak
biji-bijiannya. Tetapi, dia terus menolak untuk menyerah agar dia dapat menuntaskan
semua rasa penasarannya terhadap lubang tersebut.
3.
Tokoh
(Character)
Dalam
cerpen ini, terdapat beberapa tokoh yang masing-masing memiliki sifat dan karateristik
yang berbeda. Maka dari itu, dibawah ini akan menguraikan penjelasan bagaimana
penokohan dari masing-masing tokoh dan juga pengklasifikasian tokohnya yang
dilihat dari berbagai sisi.
A.
Penokohan
1.)
Jim
Baker
a.)
Aspek
Fisik : Tidak dijelaskan bagaimana penampilan fisiknya didalam cerita ini, karena
penulis hanya menyebutkan kalau Jim Baker adalah seorang pria paruh baya saja.
b.)
Aspek
Psikologi : Meskipun tidak disebutkan secara langsung bagaimana karakteristik
psikologi dari Jim Baker, namun berdasarkan isi cerita, dapat diketahui bahwa
Baker adalah seorang yang rajin, dan ulet, hal ini ditunjukkan dengan usahanya
selama bertahun-tahun dalam meneliti tingkah laku dari segala jenis hewan yang
ada disekitar tempat tinggalnya sehingga pada akhirnya dia dapat mengerti
bahasa dan perilaku mereka.
c.)
Aspek
Sosial : Baker adalah seorang penambang sederhana yang tinggal sendiri di
antara pegunungan dan hutan di pojokan California yang jauh dari pemukiman
penduduk. Karena tinggal di daerah yang jauh dari orang-orang, maka dia menjadikan
binatang liar dan burung-burung yang ada disekitar rumahnya sebagai tetangganya.
Setelah bertahun-tahun meneliti dan mengamati cara berkomunikasi dan juga perilaku
dari para tetangganya tersebut, Baker pun secara tidak sadar telah memiliki
kemampuan untuk memahami bahasa dan tingkah laku dari banyak jenis hewan.
2.)
Blue-Jay
Pertama
a.)
Aspek
Fisik : Di dalam cerita tidak dijelaskan mengenai penampilan fisik dari
Blue-Jay.
b.)
Aspek
Psikologi : Dia adalah seekor burung Blue-Jay yang pekerja keras, gigih,
pantang menyerah dan juga keras kepala karena dia terus berusaha untuk mencoba
memasukkan biji-bijian kedalam lubang di atap rumah kayu meskipun hal yang dia
lakukan itu masih saja belum membuahkan hasil, namun dia tetap menolak untuk
menyerah dan lebih memilih untuk melanjutkannya. Selain itu, pada saat dia
ditertawakan oleh kawanan Blue-Jay karena tindakkan konyolnya, dia tidak marah
akan tetapi ikut tertawa bersama mereka.
c.)
Aspek
Sosial : Baker mengatakan bahwa Burung Blue-Jay yang satu ini memiliki sifat
dasar yang sama dengan manusia tak terkecuali dalam sisi sosial. Burung Blue-Jay
yang satu ini memiliki hubungan yang baik dan menganggap Burung Blue-Jay lain
sebagai keluarganya, hal ini dapat dibuktikan ketika kawanan Blue-Jay ikut
membantu dirinya dalam memecahkan misteri dari lubang atap rumah. Kemudian,
ketika Blue-Jay lain menertwakan tindakan konyolnya, dirinya pun ikut tertawa
karena menganggap kekonyolannya tersebut sangat lucu.
3.)
Kawanan
Blue-Jay
a.)
Aspek
Fisik : Tidak dijelaskan
b.)
Aspek
Psikologi : baik, kompak dan rela menolong, mereka mempunyai karakteristik
seperti itu, karena mereka dengan kompak saling membantu si Blue-Jay yang
sedang menderita. Selain itu, mereka juga bersifat humoris karena bersama-sama
menertawai kelakuan konyol si Blue-Jay pertama yang ingin mengisi sebuah rumah
kayu kosong yang besar dengan biji-bijian.
c.)
Aspek
Sosial : mereka menganggap sesamanya sebagai keluarga, tak terkecuali si Blue-Jay
pertama, ketika Blue-Jay pertama tak dapat memecahkan misteri dari lubang atap,
membantunya dengan mengamati lubang dan juga saling berdiskusi untuk
menyampaikan pendapat masing-masing mengenai misteri lubang tersebut.
4.)
Old
Jay
a.)
Aspek
Fisik : Tidak dijelaskan
b.)
Aspek
Psikologi : Tidak dijelaskan
c.)
Aspek
Sosial : Tidak dijelaskan
5.)
Kucing
a.)
Aspek
Fisik : Tidak dijelaskan
b.)
Aspek
Psikologi : Tidak dijelaskan
c.)
Aspek
Sosial : Tidak dijelaskan
6.)
Burung
hantu
d.)
Aspek
Fisik : Tidak dijelaskan
e.)
Aspek
Psikologi : Tidak memiliki selera humor, karena pada saat dia mendengarkan
cerita kejadian Blue-Jay dia tidak menganggapnya sebagai sebuah hal yang lucu.
f.)
Aspek
Sosial : Tidak dijelaskan
B.
Klasifikasi
Tokoh
1.)
Dilihat
dari proporsi sifatnya :
a.)
Flat
Character : -
b.)
Round
Character : Blue-Jay, Jim Baker & kawanan Blue-Jay
2.)
Dilihat
dari perkembangan wataknya :
a.)
Static
Character : Jim Baker
b.)
Developing
Character : Blue-Jay
3.)
Dilihat
dari fungsinya :
a.)
Tokoh
Sentral
-
Tokoh
Utama Protagonis : Blue-Jay
-
Tokoh
Lawan Antagonis : -
-
Wirawan
: -
-
Wirawati
: -
-
Antiwirawan
: -
b.)
Tokoh
Bawahan
-
Tokoh
Andalan : Jim Baker, kawanan Blue-Jay & Old Jay
-
Tokoh
Tambahan : Kucing & burung hantu.
4.
Latar (Setting)
Latar
merupakan salah satu unsur intristik yang penting didalam cerita, karena latar
berisikan tentang berbagai keterangan yang berhubungan dengan terjadinya
peristiwa-peristiwa didalam sebuah cerita. Macam-macam latar yang ada dalam
cerita diantaranya adalah latar tempat, latar waktu, latar sosial, dan juga latar
ruangan. Di dalam cerpen Jim Baker’s Blue Jay Yarn juga terdapat macam-macam
latar yang telah disebutkan tadi, dan dibawah ini latar dari cerpen tersebut telah
dikelompokan berdasarkan macam-macamnya, yaitu ;
A.) Latar Tempat (Setting of Place)
Latar
yang pertama adalah latar tempat, latar tempat adalah keterangan dimana tempat
kejadian utama dari seluruh peristiwa didalam cerita terjadi.
Berdasarkan
apa yang disebutkan oleh sang narator yang terdapat pada awal cerita, latar
tempat utama atau latar tempat dari keseluruhan cerita dalam cerpen ini adalah di
daerah tempat tinggal Jim Baker yang berada diantara hutan dan gunung di
pojokan California yang jauh dari pemukiman penduduk.
B.)
Latar
Waktu (Setting of Time)
Selanjutnya,
latar kedua adalah latar waktu, latar waktu berisi tentang kronologis waktu
cerita.
Latar
waktu dari cerita awal tidak disebutkan oleh narator, akan tetapi latar waktu
cerita inti dari cerpen ini yaitu tentang cerita pengalaman Baker mengenai kejadian
kawanan burung Blue-Jay yang dia saksikan sendiri terjadi pada minggu pagi, 7
tahun kebelakang dari saat Baker menceritakan itu.
C.)
Latar
Sosial (Social Setting)
Ketiga,
latar sosial adalah keterangan dari segi sosial dari para tokoh yang terdapat
dari cerita.
Mengenai
latar sosial, karena hanya Jim Baker saja yang merupakan seorang manusia dan dapat
digolongkan kelas sosialnya kemudian tokoh-tokoh lain dari cerpen ini adalah
hewan dan tidak dapat digolongkan kelas sosialnya. Maka, berdasarkan apa yang
dideskripsikan oleh sang narator mengenai Baker yang memiliki profesi sebagai
penambang yang berkehidupan sederhana, maka dapat disimpulkan bahwa Baker adalah
termasuk seorang yang tergolong dalam kelas sosial menengah kebawah.
D.) Latar Ruangan (Style of Setting)
Kemudian
latar yang terakhir adalah latar ruangan, latar ruangan berisi penjelasan spesifik
mengenai tempat-tempat didalam cerita yang didalamnya terjadi peristiwa
-
Di
depan kabin Jim Baker
Menurut
Baker, pada hari minggu pagi 7 tahun lalu dia bersama kucingnya duduk di depan
kabin miliknya untuk berjemur sambil melihat pemandangan bukit biru. Pada saat
itu kemudian Baker melihat seekor Blue-Jay yang sedang hinggap diatas rumah
kayu dekat rumahnya.
-
Di
atap rumah kayu
Bisa
dibilang jika atap rumah kayu adalah latar ruangan utama dari cerpen ini karena
terdapat konflik yang paling banyak, hal itu disebabkan lubang yang tidak bisa
penuh oleh biji-bijian yang dibawa Blue-Jay terdapat disini. Pada bagian akhir
cerita semua kawanan Blue-Jay termasuk si Blue-Jay pertama tertawa di atap rumah
karena tingkah konyolnya yang hendak mengisi sebuah rumah kayu kosong dengan
biji-bijian.
-
Area
sekitar rumah kayu
Kawanan
Blue-Jay yang sedang membantu Blue-Jay pertama ikut mencari tahu misteri lubang
yang tidak bisa penuh itu, salah satu cara yang mereka lakukan adalah dengan
memeriksa area di sekitar rumah kayu untuk mencari petunjuk.
-
Di
depan pintu rumah kayu
Setelah
menyisir daerah sekitar rumah namun tidak menemukan petunjuk apapun, kawanan
Blue-Jay kembali ke atap rumah terkecuali seekor Blue-Jay tua yang melihat
pintu rumah yang dalam keadaan sedikit terbuka, maka dia pun memanggil semua
Blue-Jay untuk masuk kedalam rumah melalui pintu tersebut.
-
Di
dalam rumah kayu
Semua
Blue-Jay masuk kedalam rumah setelah dipanggil oleh sang Blue-Jay tua, disana
mereka menemukan fakta bahwa rumah tersebut kosong dan tidak memiliki pembatas
dari atap sampai ke lantainya, kemudian mereka pun menemukan gundukan
biji-bijian yang dimasukkan oleh si Blue-Jay pertama.
5.
Tema (Theme)
Tema
merupakan unsur intristik dalam cerita yang memiliki definisi sebagai ide atau
gagasan pokok yang mendasari sebuah karya sastra. Tema dibagi menjadi dua,
yaitu tema major dan tema minor, tema major merupakan sebuah ide pokok dari
keseluruhan cerita, sedangkan tema minor adalah tema yang muncul dengan secara
lebih spesifik untuk mewakili sebuah peristiwa atau adegan di dalam cerita
berdasarkan sudut pandang lain. Selanjutnya dibawah ini akan diuraikan tentang
tema major dan minor yang terdapat didalam cerpen Jim Baker’s Blue Jay Yarn;
A.
Tema
Major (Major Theme)
Setelah
menganalisis keseluruhan cerita berdasarkan peristiwa yang terjadi, maka dapat
disimpulkan bahwa tema major dari cerpen ini adalah tentang pengalaman Jim
Baker yang menyaksikan sendiri usaha seekor Blue-Jay untuk mengisi lubang yang
berada di atap sebuah rumah kayu kosong dengan biji-bijian.
B.
Tema
Minor (Minor Theme)
Isi
cerpen ini tersusun atas beberapa tema minor, yaitu diantaranya :
1.)
Seseorang
dengan kemampuan unik yang dimilikinya (Jim Baker dengan kemampuan dapat
mengerti bahasa binatang)
2.)
Insiden
yang terjadi pada masa lalu (Pengalaman Jim Baker pada 7 tahun yang lalu)
3.)
Usaha
untuk mencapai tujuan yang diinginkan (usaha Blue-Jay pertama untuk mengisi
lubang dengan biji-bijian)
4.)
Penderitaan
akibat tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan (penderitaan Blue-Jay pertama
yang masih tidak dapat mengisi penuh lubang)
5.)
Datangnya
bala bantuan (datangnya kawanan Blue-Jay lain untuk membantu Blue-Jay pertama)
6.)
Usaha
bersama dalam memecahkan sebuah masalah (usaha Blue-Jay pertama dan kawanannya
dalam mengetahui misteri dari lubang di atap rumah kayu)
7.)
Terungkapnya
penyebab dari sebuah masalah (kawanan Blue-Jay akhirnya mengetahui penyebab
lubang tidak bisa terisi penuh oleh biji-bijian)
6.
Sudut Pandang
(Point of View)
Unsur
intristik cerita yang selanjutnya adalah sudut pandang atau point of view,
sudut pandang merupakan cara yang dilakukan oleh sang penulis dalam menempatkan
dirinya pada sebuah karya yang ditulisnya. Penulis menentukan sendiri melalui
sudut apa dia menyampaikan segala hal yang terdapat di dalam ceritanya, baik
itu tokoh, alur, latar dan lainnya.
Kemudian,
Laurence Perrine telah membagi sudut pandang menjadi 4 bagian, yaitu :
-
Omniscient
Point of View
-
Limited
Omniscient Point of View
-
First
Person Point of View
-
Objective
Point of View.
Macam-macam
metode pencerita yang digunakan oleh penulis didalam sebuah cerita diantaranya
adalah :
a.)
Pencerita
Akuan
-
Pencerita
Akuan Sertaan
-
Pencerita
Akuan Terbatas
b.)
Pencerita
Diaan (Orang ketiga)
-
Pencerita
Diaan Serba Tahu
-
Pencerita
Diaan Terbatas
Selanjutnya,
sesuai dengan beberapa macam sudut pandang yang di ungkapkan oleh Perrine, maka
dapat diketahui jika cerpen Jim Baker’s Blue Jay Yarn yang terbagi atas dua
cerita menggunakan dua sudut pandang, yaitu Limited Omnisicient Point of View
dan juga Omniscient Point of View.
-
Pertama, cerita ini awalnya menggunakan
sudut pandang Limited Omniscient Point of View karena pada bagian awal cerita,
sang narator hanya menjelaskan tentang temannya, Jim Baker yang dapat mengerti
bahasa dan perilaku binatang, “He was a middle-aged, simple-hearted miner who
had lived in a lonely corner of California, among the woods and mountains, a
good many years, and had studied the ways of his only neighbors, the beasts and
the birds, until he believed he could accurately translate any remark which
they made. This was Jim Baker.” (Twain, 1880 : 22). Mengapa pada bagian ini
sudut pandang ceritanya termasuk jenis Limited
Omniscient Point of View, sebab narator hanya memiliki penjelasan terbatas
dalam ceritanya, yaitu dia hanya mengungkapkan segala hal yang dia ketahui
tentang Jim Baker seorang. Kemudian, macam penceritanya adalah pencerita diaan
terbatas karena apa yang di jelaskan narator mengenai kemampuan Jim Baker bukan
atas dasar pengetahuannya sendiri, akan tetapi berdasarkan apa yang dikatakan
Baker kepada dirinya “According to Jim Baker, some animals have only a limited
education...........” (Twain, 1880 : 22).
-
Kedua, sudut pandang yang digunakan
dalam cerita ini adalah Omniscient Point
of View, mengapa di kategorikan sebagai jenis sudut pandang tersebut karena
isi cerpen ini berubah menjadi cerita Baker tentang sebuah insiden yang disaksikan
oleh dirinya sendiri, yaitu ketika Blue-Jay yang berusaha mengisi sebuah lubang
di atap rumah kayu di dekat rumah Baker pada tujuh tahun yang lalu, “When I
first begun to under stand jay language correctly, there was a little incident
happened here. Seven years ago,.......” (Twain, 1880 : 23). Baker menceritakan
kisahnya tersebut tidak hanya terbatas dari satu sisi karakter saja, akan
tetapi dari keseluruhan karakter, hal ini karena Baker mengetahui segalanya
yang terjadi pada insiden tersebut, termasuk dialog antar tokoh, contohnya : “The
sufferer told him the whole circumstance, and says, ‘Now yonder’s the hole, and
if you don’t believe me, go and look for yourself.’ So this fellow went and
looked, and comes back and says, ‘How many did you say you put in there?’ ‘Not
any less than two tons,’ says the sufferer.” (Twain, 1880 : 25-26). Kemudian
macam penceritanya adalah pencerita akuan tak sertaan, karena Baker sebagai
pencerita tidak ikut terlibat di dalam insiden yang dia ceritakan, meskipun
pada awalnya dia mengatakan apa yang dilakukannya pada saat insiden itu akan
terjadi “Well, one Sunday morning I was sitting out here in front of my cabin,
with my cat, taking the sun, and looking at the blue hills, and listening to
the leaves rustling so lonely in the trees, and thinking of the home away
yonder in the States.” (Twain, 1880 : 23). Akan tetapi seterusnya dia
melanjutkan ceritanya berdasarkan apa yang dia saksikan “...that I hadn’t heard
from in thirteen years, when a blue jay lit on that house, with an acorn in his
mouth, and says, ‘Hello, I reckon I’ve struck something.’When he spoke, the
acorn dropped out of his month and rolled down the roof....” (Twain, 1880 :
24). Dan dari bagian tersebut sampai bagian akhir cerita, Baker sama sekali tidak
menyebutkan dirinya lagi.
7. Simbol (Symbolism)
Simbol
atau simbolisme dalam karya sastra memiliki arti sebagai sebuah teknik yang
digunakan oleh penulis untuk menyembunyikan makna sebenarnya dari suatu ide abstrak
yang terdapat didalam tulisannya. Penulis mengaplikasikan simbolisme melalui
sebuah objek atau kata yang memiliki arti lebih dari maknanya sendiri. Simbol
dapat berbentuk objek, tokoh, situasi, tindakan, tempat atau yang lainnya.
Setelah
menganalisis cerpen Jim Baker’s Blue Jay Yarn ini, diperoleh beberapa simbol
yang terkandung didalamnya, yaitu diantaranya :
1.)
Jim
Baker : Penulis menggambarkan tokoh Jim Baker sebagai simbol dari
kesederhanaan, kesendirian dan ketekunan.
2.)
Blue
Jay Pertama : Simbol yang terdapat pada tokoh ini adalah kegigihan, kekesalan, penderitaan
dan kekonyolan.
3.)
Kawanan
Blue Jay : rasa kebersamaan, kesolidan dan juga kekonyolan merupakan simbol
yang dimiliki oleh para kawanan burung Blue-Jay.
4.)
Rumah
kayu : simbol yang dimilikinya adalah kekosongan dan peninggalan.
5.)
“Lonely
corner of California” (Twain, 1880 : 22). : frase ini muncul sebagai simbol
yang memberitahukan jika tempat tinggal Jim Baker ini berada di tempat yang
jauh dari pemukiman orang lain.
6.)
“You
may call a jay a bird...........and
don’t belong to no church” (Twain, 1880 : 23). : makna yang terdapat pada
simbol ini adalah menunjukkan bahwa Burung Blue-Jay tidak terikat pada sebuah
gereja atau dalam istilah lain tidak memiliki agama tentu saja karena mereka
adalah binatang.
7.)
“Ignorant
people think it’s the noise which fighting cats
make that is so aggravating” (Twain, 1880 : 23).: kata noise merupakan simbol
yang merujuk pada suara kucing atau menurut pandangan Baker adalah gramatikal
dari kucing.
8.)
“He
cocked his head to one side.......like a
’possum looking down a jug” (Twain, 1880 : 24). : simbol ini menggambarkan
bahwa he (Blue-Jay pertama) melihat isi lubang di atas atap layaknya seekor
possum yang sedang mengintip isi dari sebuah kendi.
9.)
“I
was sitting out here in front of my cabin....... and thinking of the home away yonder in the States” (Twain, 1880 :
24). : pada simbol ini, penulis menyiratkan bahwa Jim Baker sangat merindukan
keluarganya di tempat yang jauh sana.
10.)
“with the heavenliest
smile on his face” (Twain, 1880 : 24). : di dalam bagian ini menggambarkan
Blue-Jay pertama yang tersenyum dengan begitu bahagianya.
11.)
“Was
paralyzed into a listening attitude and
that smile faded gradually out of his countenance like breath off’n a razor”
(Twain, 1880 : 24). : frase ini jika di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia
adalah senyuman itu perlahan-lahan hilang bagaikan lapisan kabut yang memudar
dari sebuah pisau silet. Makna yang tersembunyi dibaliknya adalah senyuman
bahagia dari Blue-Jay pertama yang perlahan-lahan menghilang karena dia kecewa akibat
tidak bisa melihat biji yang sudah dia masukkan kedalam lubang.
12.)
“He
studied a while, then he just went into the details” (Twain,
1880 : 24). : details merujuk pada tindakan sebelumnya yang dilakukan oleh
Blue-Jay pertama yaitu memeriksa secara rinci lubang atap.
13.)
“....and
cussed himself black in the face” (Twain,
1880 : 25). : black disini memiliki arti negatif atau kejelekan karena frase
ini memiliki arti bahwa Blue-Jay pertama mencela dirinya sendiri dengan
kata-kata kotor.
14.)
“He
laid into his work like a nigger” (Twain,
1880 : 25). : simbol ini memiliki arti bahwa Blue-Jay pertama menempatkan usahanya
untuk mengisi lubang layaknya seorang kulit hitam dalam hal bekerja. Penulis
menggunakan kata “nigger” atau negro untuk mengumpamakan usaha keras dari
Blue-Jay pertama tersebut karena pada saat karya ini dibuat, orang-orang kulit
hitam sangat banyak dijadikan sebagai budak.
15.)
“He
comes adrooping down, once more, sweating like an ice-pitcher” (Twain, 1880 : 25). : disini memiliki arti bahwa Blue-jay
pertama berkeringat bagaikan sebuah teko dari kaca yang berisi air es. Penulis
mengambil perumpamaan tersebut karena jika sebuah teko yang terbuat dari kaca
diisi oleh air es, maka lama-kelamaan akan muncul embun pada bagian luarnya dan
akan memberikan kesan bahwa teko tersebut berkeringat.
16.)
“They
all came a-swooping down like a blue
cloud” (Twain, 1880 : 26). : simbol
yang terdapat disini menyatakan bahwa para kawanan Blue-Jay yang sangat banyak
itu terbang turun kebawah secara bersamaan sehingga membentuk seperti sebuah
awan biru.
8.
Ironi (Irony)
Ironi
di dalam karya sastra merupakan istilah yang digunakan ketika adanya perbedaan
antara pengharapan dan kejadian yang sebenarnya terjadi pada sebuah cerita.
Ironi
diklasifikasikan menjadi 3 jenis, yaitu Verbal Irony, Irony of Situation dan
Dramatic Irony.
A.) Verbal Irony
Ironi
jenis ini terjadi pada saat tokoh dalam cerita berbicara atau mengekspresikan
sesuatu bertentangan dengan maksud sebenarnya yang ingin dikatakan atau
diungkapkan oleh tokoh tersebut.
Verbal
Irony yang terdapat didalam Jim Baker’s Blue-Jay Yarn :
-
Setelah
dilakukan analisis secara keseluruhan tidak terdapat satupun Verbal Irony
didalam cerpen ini.
B.)
Irony
of Situation
Merupakan
situasi di dalam cerita yang terjadi tidak sesuai atau berlawanan dengan apa
yang pembaca harapkan.
Dalam
cerpen Jim Baker’s Blue-Jay Yarn, yang termasuk Irony of Situation diantaranya
adalah :
1.)
Ketika
Blue-Jay pertama sudah memasukkan banyak sekali biji-bijian ke dalam lubang atap
namun masih belum bisa membuatnya terisi penuh. Saya sebagai pembaca mengira
bahwa Blue-Jay tersebut akan menyerah dan menghentikan usahanya, akan tetapi
pada kenyataannya dia malah semakin terdorong untuk melanjutkan usahanya untuk
dapat mengisi penuh lubang atap dengan biji-bijian.
2.)
Saat
beberapa Blue-Jay lain datang untuk menghampiri Blue-Jay pertama dan menanyakan
apa yang sedang dilakukan olehnya, setelah mendapat jawaban dari Blue-Jay
pertama bahwa dia saat itu sedang kebingungan terhadap lubang atap yang belum
bisa terisi penuh meskipun dia sudah memasukkan banyak sekali biji-bijian.
Pikir saya, kawanan Blue-Jay tadi akan mengajak Blue-Jay pertama untuk
menghentikan usahanya karena yang dilakukannya itu sia-sia saja, akan tetapi
mereka menjadi ikut penasaran pada lubang atap tersebut dengan memeriksanya dan
kawanan Blue-Jay lain pun banyak yang berdatangan untuk ikut melihat lubang
atap itu.
3.)
Pada
saat kawanan Blue-Jay memeriksa rumah kayu dan area sekitarnya untuk mencari
petunjuk mengenai misteri lubang di atap, ada seekor Blue-Jay tua yang melihat
pintu dari rumah kayu itu sedikit terbuka. Blue-Jay itu pun langsung mengintip
kedalam isinya dan melihat ada banyak biji-bijian yang tergeletak di lantai
rumah kayu dan kemudian dia memanggil Blue-Jay lain untuk masuk kesana juga.
Sebelumnya saya mengira bahwa tak ada seekor Blue-Jay pun yang dapat mengungkap
rahasia dari misteri lubang itu, namun akhirnya seekor Blue-Jay tua tersebut
menjadi pembeda karena dapat menjadi pembuka jalan menuju pemecahan misteri itu
karena saat semua Blue-Jay memasuki rumah kayu mereka menemukan fakta bahwa
tidak ada yang membatasi lubang atap dan lantai dari rumah kayu.
4.)
Setelah
mengetahui bahwa yang dilakukan oleh si Blue-Jay pertama merupakan sebuah
bentuk kekonyolan, para kawanan Blue-Jay pun kemudian tertawa terbahak-bahak
akan hal itu. Sebelumnya saya menebak jika si Blue-Jay pertama akan merasa
sangat kesal karena ditertawakan oleh mereka semua, namun kenyataannya lain,
bukannya kesal atau marah akan tetapi dia malah ikut bergabung dengan mereka
untuk menertawakan tindakan konyolnya. Si Blue-Jay pertama ikut tertawa karena
dia pikir bahwa kekonyolan yang dilakukannya tadi sangatlah lucu, dan ini pun
membuktikan kebenaran dari perkataanJim Baker yang menyebutkan sifat humoris
merupakan salah satu sifat yang dimiliki oleh semua Blue-Jay.
5.)
Setiap
musim panas selama hampir tiga tahun, para kawanan Blue-Jay tadi membawa
Blue-Jay lainnya dari seluruh daerah Amerika Serikat untuk melihat lubang atap sambil
mendengarkan cerita mereka tentang tindakan konyol dari si Blue-Jay pertama. Saya
mengira setelah insiden tadi berakhir kawanan Blue-Jay akan melupakannya,
tetapi mereka terus saja mengingatnya dan bahkan mencoba agar semua Blue-Jay
dari seluruh daratan Amerika Serikat untuk mengetahui kejadian itu.
C.)
Dramatic
Irony
Ironi
berupa perbedaan antara pemikiran dari pembaca dan apa yang tokoh dalam cerita
pikirkan, bisa jadi saat pembaca mengetahui sesuatu hal yang terjadi dalam
sebuah situasi yang tidak diketahui oleh para tokoh.
-
Satu-satunya
Dramatic irony dan yang dapat dianggap sebagai penyebab utama adanya kejadian
Blue-Jay itu adalah karena Blue-Jay pertama dan juga kawanannya tidak
mengetahui bahwa tidak ada yang membatasi langit-langit rumah kayu dengan
lantainya, hal itu menyebabkan biji-bijian yang dimasukkan kedalam lubang
langsung jatuh ke lantai rumah kayu. Meskipun Blue-Jay pertama memasukkan
begitu banyak biji kedalamnya, tetapi untuk membuat lubang atap itu terisi
penuh memerlukan waktu yang sangat lama sekali karena rumah kayu kosong itu
sangat besar dan juga mustahil untuk dapat diisi oleh biji-bijian yang kecil
itu. Sedangkan disisi lain, pembaca sudah mengetahui fakta dari rumah kayu
tersebut karena telah Baker yaitu,
“Seven years ago, the last man in this region but me, moved away. There stands
his house, been empty ever since; a log
house, with a plank roof just one big room, and no more; no ceiling nothing
between the rafters and the floor.” (Twain, 1880 : 24).
9.
Pesan Moral
Unsur
intristik selanjutnya adalah Pesan moral, merupakan suatu hikmah atau pelajaran
yang bisa dipetik mengenai baik atau buruknya sesuatu hal yang terdapat di
dalam cerita. Pesan moral bisa berasal dari hal yang postitif maupun negatif,
namun harus selalu dalam pengertian yang baik. Pesan moral bisa diangkat
perkonflik, yaitu diantaranya konflik antara : man againts man, man againts
environment (komunitas manusia), man againts environment (linkungan alam), dan
man againts god (konflik batin/konflik internal si man tersebut).
Setelah
dilakukan analisis, pesan moral yang terdapat dalam cerpen Jim Baker’s Blue-Jay
Yarn berdasarkan konflik yang terjadi di dalamnya adalah :
A.) Man Againts Environment
-
Blue-Jay
Pertama VS Lubang di Atap Rumah Kayu
Pelajaran
yang bisa kita ambil dari konflik ini adalah kita harus terus berjuang untuk
mencapai sesuatu yang kita inginkan, meskipun terus mengalami kegagalan kita
harus terus mencoba agar dapat mencapainya.
B.)
Man
Againts God (Konflik Batin/Internal)
-
Blue-Jay
Pertama VS Dirinya Sendiri
Hikmah
yang terdapat di dalam konflik ini adalah kita harus pantang menyerah terhadap segala
usaha yang kita lakukan untuk mencapai sesuatu yang sangat kita ingin-inginkan.
10.
Aspek Didaktis
Kemudian,
Aspek Didaktis adalah salah satu unsur intristik cerita yang memiliki arti
sebagai pembelajaran yang terdapat pada sifat-sifat atau tindakan-tindakan dari
para tokoh di dalam cerita. Pembelajaran tersebut haruslah berisi nilai ajaran
yang baik (mendidik), karena memiliki tujuan untuk membuat para pembaca dapat
menerapkan hal positif tersebut kedalam kehidupannya. Ada 3 Jenis Aspek di dalam
Didaktis, yaitu : Aspek Religi, Aspek Moral, dan Aspek Sosial.
Setelah
dianalisis, dalam cerpen “Jim Baker’s Blue-Jay Yarn” terdapat Aspek Moral dan
Aspek Sosial, nilai-nilai positif pada cerita yang termasuk kedalam aspek-aspek
tersebut adalah :
A.) Aspek Moral
-
Kerja
Keras : Ketika Blue-Jay pertama berjuang dengan begitu kerasnya untuk membuat
lubang di atap rumah kayu menjadi penuh dengan biji-bijian yang dia masukkan.
Meskipun pada akhir cerita usaha keras yang dilakukannya hanya sia-sia saja,
namun kita bisa meneladani apa yang di lakukan oleh Blue-Jay pertama, yaitu kerja
keras adalah upaya yang harus dilakukan dalam usaha seseorang untuk mencapai
sebuah harapan yang diingin-inginkan.
-
Pantang
Menyerah : Saat Blue-Jay pertama hampir putus asa karena lubang atap rumah kayu
masih belum penuh meskipun dia telah berusaha keras untuk mengisinya, dia
memutuskan untuk tidak menyerah dan tetap melanjutkan apa yang dilakukannya. Pembelajaran
positifnya adalah menyerah bukanlah hal yang patut dilakukan ketika segala
usaha yang dilakukan masih belum bisa memberikan sebuah hasil. Seseorang harus
terus berada pada jalannya untuk tetap berjuang dan pantang menyerah dalam usaha
untuk mencapai segala yang diinginkan.
-
Tolong
Menolong : Pada saat Blue-Jay pertama begitu menderita karena usahanya yang
masih belum membuahkan hasil, para Blue-Jay lain datang untuk membantunya dalam
memecahkan misteri lubang atap yang tidak bisa penuh tersebut. Ajaran baik yang
terkandung didalamnya adalah pada saat kita melihat seseorang yang sedang
mengalami masalah terutama orang yang kita kenal, kita harus bisa membantunya
untuk dapat menyelesaikan masalahnya tersebut.
B.)
Aspek
Sosial
-
Gotong
Royong : Kawanan Blue-Jay yang saling bergotong-royong untuk mencari tahu
penyebab lubang atap yang tidak bisa penuh. Mereka melakukan berbagai cara
yaitu dengan mencari petunjuk di daerah sekitar rumah kayu dan juga mereka
saling berdiskusi untuk mengungkapkan pendapatnya masing-masing mengenai lubang
tersebut. Nilai positif yang bisa dijadikan pembelajaran adalah dengan melakukan
gotong-royong, hal yang dianggap begitu berat jika dilakukan sendiri akan
menjadi lebih mudah apabila dilakukan secara bersama-sama (dengan gotong
royong). Selain itu, dengan melakukan gotong royong hubungan antar individu
dapat menjadi semakin erat dan kokoh.
11.
Emosi
Unsur
intristik terakhir yang terdapat dalam cerita pendek adalah Emosi, emosi di
dalam cerpen sendiri memiliki arti berbagai perasaan yang dialami oleh
tokoh-tokoh pada cerita. Emosi yang muncul tersebut diantaranya adalah rasa
senang, takut, sedih, kaget, cemas, tertawa, menangis, terharu, dsb.
Setelah
dilakukan analisis, Emosi yang muncul pada cerpen Jim Baker’s Blue-Jay Yarn
diantaranya adalah :
A.) Senang/bahagia
-
Ketika
Blue-Jay pertama menemukan sebuah lubang di atap rumah kayu, “Then he cocked
his head down and took an other look; he glances up perfectly joyful, this time; wink his wings and
his tail both,..................and was just tilting his head back, with the heavenliest smile on his face,....” (Twain,
1880 : 24).
B.)
Terkejut/kaget
-
Disaat
Blue-Jay pertama terkejut karena dia tidak mendengar suara biji yang dimasukan
olehnya jatuh pada dasar lubang atap , “.....that smile faded gradually out of
his countenance like breath off’n a razor, and the queerest look of surprise took its place. Then he says, ‘Why I
didn’t hear it fall!...” (Twain, 1880 : 24).
C.)
Marah/kesal
-
Pada
saat Blue-Jay pertama begitu marah dan kesal terhadap lubang di atap karena dia
masih saja tidak bisa membuat lubang itu penuh. “Then he begun to get mad. He held in for a
spell,.............‘Well, you’re a long hole, and a deep hole, and a mighty
singular hole altogether— but I’ve started in to fill you, and I’m d— d if I don’t
fill you, if it takes a hundred years!’ (Twain, 1880 : 25).
“.......when his head come up
again he was just pale with rage. He
says, ‘I’ve shoveled acorns enough in there to keep the family thirty years,
and if I can see a sign of one of ’em I wish I may land in a museum with a
belly full of sawdust in two minutes!” (Twain, 1880 : 25).
D.) Tertawa
-
Saat
kawanan Blue-Jay menertawakan tindakan konyol yang telah dilakukan oleh
Blue-Jay pertama yang ingin mengisi lubang atap dengan biji-bijian, “.........
the whole absurdity of the contract that that first jay had tackled hit him
home and he fell over backwards suffocating with laughter, and the next jay took his place and done the same.” (Twain,
1880 : 26).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar