Selasa, 08 Januari 2019

Analisis Unsur Intristik Cerita Pendek “Jim Baker’s Blue-Jay Yarn” karya Mark Twain


Analisis Unsur Intristik pada Cerita Pendek “Jim Baker’s Blue-Jay Yarn” karya Mark Twain

Oleh :
Nama               : Ilham Maulana Firdaus
NIM                 : 1630911024
Program Studi : Sastra Inggris
Tingkat            : V (Lima)
Universitas Muhammadiyah Sukabumi


Jim Baker’s Blue-Jay Yarn merupakan sebuah karya tulisan Mark Twain yang terdapat pada chapter 3 dalam bukunya “A Tramp Abroad” yang diterbitkan pada tahun 1880. Buku tersebut berisi kumpulan karya Twain, bergenre fiksi dan menceritakan tentang kisah perjalanan sang penulis dan juga temannya Harris.
Cerita dari cerpen ini bagus, meskipun pada bagian awal cerpen ini tidak begitu mudah untuk dipahami, namun lama-kelamaan ceritanya mulai dapat menghibur para pembacanya karena mulai munculnya bagian-bagian yang terdapat unsur humor dan ceritanya pun menjadi cukup mudah untuk dimengerti. Selain itu, setelah membaca Jim Baker’s Blue-Jay Yarn pembaca juga mendapatkan beberapa pengetahuan mengenai bagaimana perilaku dari hewan-hewan yang mungkin belum diketahui oleh para pembaca.
1.     Alur Cerita/Plot
Unsur intristik pertama dalam cerita pendek adalah Alur atau plot, alur adalah urutan peristiwa yang saling menyambung atau dapat juga disebut “jalan cerita” dari sebuah cerita.
A.     Jenis Alur/Plot
Jenis Alur/Plot Cerita dalam cerpen ini adalah Plot campuran karena pada awalnya sang narator menceritakan tentang kawannya bernama Jim Baker yang memiliki keahlian unik yaitu dia dapat mengerti bahasa dan juga perilaku hewan. Lalu, setelah menjelaskan secara detail mengenai kemampuan Baker tersebut melalui beberapa penjelasan yang disertai percakapan tersebut, kemudian posisi narator diambil alih oleh Baker. Selanjutnya, Baker menceritakan tentang kejadian yang dia saksikan sendiri pada 7 tahun lalu (flashback), dia menceritakan alur ceritanya tersebut dengan secara progresif/kronologis yaitu dari awal sampai akhir cerita.
B.     Struktur Alur
Struktur Alur terbagi menjadi 3 yaitu Alur awal, tengah, dan akhir yang masing-masingnya mencakup beberapa bagian lain. Struktur alur yang terdapat didalam cerita pendek ini adalah sebagai berikut :
1.)    Awal
a.)    Paparan (Exposition)
Alur cerita pendek ini dibuka dengan pengenalan tokoh utama yaitu Jim Baker oleh sang Narator dan juga tentang kemampuan unik Baker yang dapat mengerti bahasa dan perilaku dari bermacam jenis hewan. Narator menjelaskan tentang pengetahuan Baker mengenai kemampuan berkomunikasi dari para hewan, khususnya Burung Blue-Jay yang Baker anggap lebih spesial daripada hewan-hewan lainnya.
b.)    Rangsangan (Inciting Moment)
Baker kemudian mengambil alih posisi narator dan mulai menceritakan sebuah kejadian yang disaksikannya sendiri pada tujuh tahun yang lalu mengenai sebuah insiden unik dari kawanan Burung Blue-Jay yang dapat dia mengerti dikarenakan kemampuan yang dimilikinya.
c.)    Gawatan (Rising Action)
Pada bagian awal cerita yang dia ungkapkan, Baker mengatakan bahwa dia melihat seekor burung Blue-Jay yang bertengger pada atap dari sebuah rumah kayu kosong di dekat rumahnya. Dia melihat Burung itu sedang memasukkan biji-bijian yang dibawa si Blue-Jay pertama tersebut kedalam sebuah lubang yang terdapat disekitar tempatnya bertengger untuk mengukur seberapa dalam lubang atap.


2.)    Tengah
a.)    Tikaian (Conflict)
Setelah sekitar dua jam dia mengisi lubang dengan biji-bijian namun masih belum bisa membuat lubangnya penuh, si Blue-Jay pertama pun menjadi sangat kesal dan marah. Meskipun begitu, si Blue-Jay masih terus pantang menyerah untuk menuntaskan rasa penasarannya terhadap lubang itu hingga sampai-sampai jumlah biji yang telah dimasukkannya telah mencapai 2 ton lebih.
b.)    Rumitan (Complication)
Kemudian datanglah beberapa Blue-Jay lain dan menghentikan Blue-Jay pertama untuk bertanya apa yang sedang dilakukan olehnya, lalu setelah mendengarkan apa sebenarnya yang terjadi, mereka kemudian memeriksa dan mengamati lubang tersebut, lalu mereka pun memutuskan untuk memanggil burung Blue-Jay lain untuk datang kesana.
c.)    Klimaks (Climax)
Ada banyak sekali burung Blue-Jay yang berada di atap maupun sekitar rumah, bahkan apabila dihitung mungkin jumlahnya bisa mencapai lima ribu ekor lebih. Menurut Baker, para kawanan Blue-Jay itu melakukan hal yang sama, yaitu saling mengamati dan berdiskusi untuk memberikan pendapat terhadap misteri lubang yang tidak bisa penuh itu.
Mereka kemudian membagi kelompok untuk menyelidiki daerah sekitar rumah kayu tersebut. Setelah menyelidiki di sekitar rumah, lalu seekor Blue-Jay tua melihat pintunya sedikit terbuka dan dia pun memanggil Blue-Jay lain untuk masuk kedalamnya. Kawanan Blue-Jay kemudian masuk kedalam rumah kayu bagaikan sebuah awan biru besar karena jumlah mereka yang sangat banyak.

3). Akhir
a). Leraian (Falling Action)
Setelah masuk kedalam rumah kayu, mereka pun akhirnya menemukan alasan mengapa lubang itu tidak bisa penuh karena didalam rumah kayu tidak ada apapun yang membatasi antara bagian atap sampai dasarnya, hal tersebut membuat biji-bijian yang dimasukkan kedalam lubang atap langsung jatuh ke lantai rumah. Setelah dapat memecahkan misteri lubang itu, para kawanan Blue-Jay lalu keluar dari rumah kayu kemudian hinggap di atap rumah kayu.
Di atap rumah kayu, mereka semua langsung tertawa karena menganggap bahwa usaha dari si Blue-Jay pertama untuk mengisi sebuah rumah kosong dengan biji-bijian merupakan sebuah tindakan yang sangat konyol. Di sana mereka semua terus tertawa selama satu jam lebih tak terkecuali si Blue-Jay pertama yang juga menganggap kalau tindakannya itu sangat konyol.
b). Selesaian (Denoument)
Setelah kejadian itu, pada setiap musim panas selama tiga tahun para kawanan Burung Blue-Jay tadi membawa Blue-Jay lain dari seluruh daerah Amerika untuk melihat lubang di atap rumah kayu sambil mendengarkan kejadian konyol yang terjadi disana. Para burung yang mereka bawa pun ikut tertawa setelah mendengar cerita itu terkecuali seekor burung hantu asal Nova Scotia yang menganggap bahwa kejadian itu tidak lucu sama sekali.

C.     Jenis Plot Akhir
Fokus dari plot cerita ini adalah tentang sebuah kejadian yang disaksikan sendiri oleh Jim Baker yaitu insiden kawanan Blue-Jay yang penasaran terhadap lubang pada atap rumah kayu yang tidak bisa penuh. Pada bagian menuju akhir cerita telah disebutkan alasan mengapa hal itu bisa terjadi karena Burung Blue-Jay tadi mencoba untuk mengisi penuh sebuah rumah kayu besar yang kosong dengan biji-bijian. Maka dari itu, Alur/Plot akhir dari cerita ini adalah Close Plot karena akhir ceritanya tidak menggantung dan semua inti permasalahan dalam cerita ini telah terselesaikan.

2.     Konflik (Conflict)
Selanjutnya, mengenai konflik yang terdapat didalam Jim Baker’s Blue-Jay. Konflik merupakan salah satu unsur yang penting didalam sebuah cerita, karena jika tidak ada konfik maka sebuah cerita akan terkesan hambar dan tidak akan menarik. Konflik dibagi menjadi tiga jenis, yaitu man againts man (manusia dengan manusia lain) yaitu sebuah gesekan yang terjadi antara individu dengan individu lainnya, lalu ada man againts himself yaitu konflik yang terjadi antara seorang individu dengan dirinya sendiri, dan terakhir adalah man againts environment yaitu konflik antara individu dengan linkungannya.
Konflik yang terjadi didalam cerpen ini diantaranya adalah man againts environment dan man againts himself. Meskipun yang terlibat didalam konflik bukanlah Narator ataupun Jim Baker, akan tetapi si Blue-Jay pertama meskipun dia bukanlah seorang manusia tetapi seekor burung namun bisa kita anggap kalau dia mengambil peran sebagai “man” didalam konflik-konflik yang terjadi karena Baker menggambarkan perilaku si Blue-Jay bagaikan seorang manusia.
A.     Man Againts Environment
-          Blue-Jay Pertama VS Lubang di Atap Rumah Kayu
Seperti yang telah di sebutkan sebelumnya, meskipun si Blue-Jay adalah seekor burung namun kita bisa memasukannya kedalam peran sebagai “man” karena dia menjadi “tokoh utama” dalam cerita Baker. Baker menceritakan jika sumber utama terjadinya kejadian yang dia saksikan pada tujuh tahun yang lalu itu adalah seekor Blue-Jay yang awalnya memasukkan beberapa biji-bijian yang dia bawa kedalam sebuah lubang yang terletak di atap rumah kayu untuk mengecek bagaimana kedalamannya, namun dia masih belum bisa membuatnya penuh. Meskipun Si Blue-Jay terus menerus memasukkan biji-bijian kedalam lubang, namun lubang itu masih tidak bisa penuh juga dan hal itu membuatnya begitu kesal kepada lubang itu lalu dia pun berkata kepada lubang kalau dia telah memasukkan biji-bijian yang jumlahnya cukup untuk menjadi makanan bagi keluarganya selama 30 tahun. Setelah itu dia mengatakan kalau dia masih belum bisa melihat biji-biji yang telah dimasukkannya, dia berharap kalau dia dapat mendarat di sebuah museum yang penuh dengan serbuk gergaji.
B.     Man Againts Himself
-          Blue-Jay Pertama VS Dirinya Sendiri
Karena usahanya dalam mencoba untuk memasukkan biji-bijian yang sudah begitu banyak kedalam lubang masih saja sia-sia, hal itu mengakibatkannya begitu merasa sangat kesal dan marah. Dia kesal selain kepada lubang itu tapi juga dia kesal dengan dirinya sendiri yang telah menyia-nyiakan waktunya dan juga banyak biji-bijiannya. Tetapi, dia terus menolak untuk menyerah agar dia dapat menuntaskan semua rasa penasarannya terhadap lubang tersebut.


3.     Tokoh (Character)
Dalam cerpen ini, terdapat beberapa tokoh yang masing-masing memiliki sifat dan karateristik yang berbeda. Maka dari itu, dibawah ini akan menguraikan penjelasan bagaimana penokohan dari masing-masing tokoh dan juga pengklasifikasian tokohnya yang dilihat dari berbagai sisi.
A.     Penokohan
1.)    Jim Baker
a.)    Aspek Fisik : Tidak dijelaskan bagaimana penampilan fisiknya didalam cerita ini, karena penulis hanya menyebutkan kalau Jim Baker adalah seorang pria paruh baya saja.
b.)    Aspek Psikologi : Meskipun tidak disebutkan secara langsung bagaimana karakteristik psikologi dari Jim Baker, namun berdasarkan isi cerita, dapat diketahui bahwa Baker adalah seorang yang rajin, dan ulet, hal ini ditunjukkan dengan usahanya selama bertahun-tahun dalam meneliti tingkah laku dari segala jenis hewan yang ada disekitar tempat tinggalnya sehingga pada akhirnya dia dapat mengerti bahasa dan perilaku mereka.
c.)    Aspek Sosial : Baker adalah seorang penambang sederhana yang tinggal sendiri di antara pegunungan dan hutan di pojokan California yang jauh dari pemukiman penduduk. Karena tinggal di daerah yang jauh dari orang-orang, maka dia menjadikan binatang liar dan burung-burung yang ada disekitar rumahnya sebagai tetangganya. Setelah bertahun-tahun meneliti dan mengamati cara berkomunikasi dan juga perilaku dari para tetangganya tersebut, Baker pun secara tidak sadar telah memiliki kemampuan untuk memahami bahasa dan tingkah laku dari banyak jenis hewan.
2.)    Blue-Jay Pertama
a.)    Aspek Fisik : Di dalam cerita tidak dijelaskan mengenai penampilan fisik dari Blue-Jay.
b.)    Aspek Psikologi : Dia adalah seekor burung Blue-Jay yang pekerja keras, gigih, pantang menyerah dan juga keras kepala karena dia terus berusaha untuk mencoba memasukkan biji-bijian kedalam lubang di atap rumah kayu meskipun hal yang dia lakukan itu masih saja belum membuahkan hasil, namun dia tetap menolak untuk menyerah dan lebih memilih untuk melanjutkannya. Selain itu, pada saat dia ditertawakan oleh kawanan Blue-Jay karena tindakkan konyolnya, dia tidak marah akan tetapi ikut tertawa bersama mereka.
c.)    Aspek Sosial : Baker mengatakan bahwa Burung Blue-Jay yang satu ini memiliki sifat dasar yang sama dengan manusia tak terkecuali dalam sisi sosial. Burung Blue-Jay yang satu ini memiliki hubungan yang baik dan menganggap Burung Blue-Jay lain sebagai keluarganya, hal ini dapat dibuktikan ketika kawanan Blue-Jay ikut membantu dirinya dalam memecahkan misteri dari lubang atap rumah. Kemudian, ketika Blue-Jay lain menertwakan tindakan konyolnya, dirinya pun ikut tertawa karena menganggap kekonyolannya tersebut sangat lucu.
3.)    Kawanan Blue-Jay
a.)    Aspek Fisik : Tidak dijelaskan
b.)    Aspek Psikologi : baik, kompak dan rela menolong, mereka mempunyai karakteristik seperti itu, karena mereka dengan kompak saling membantu si Blue-Jay yang sedang menderita. Selain itu, mereka juga bersifat humoris karena bersama-sama menertawai kelakuan konyol si Blue-Jay pertama yang ingin mengisi sebuah rumah kayu kosong yang besar dengan biji-bijian.
c.)    Aspek Sosial : mereka menganggap sesamanya sebagai keluarga, tak terkecuali si Blue-Jay pertama, ketika Blue-Jay pertama tak dapat memecahkan misteri dari lubang atap, membantunya dengan mengamati lubang dan juga saling berdiskusi untuk menyampaikan pendapat masing-masing mengenai misteri lubang tersebut.
4.)    Old Jay
a.)    Aspek Fisik : Tidak dijelaskan
b.)    Aspek Psikologi : Tidak dijelaskan
c.)    Aspek Sosial : Tidak dijelaskan
5.)    Kucing
a.)    Aspek Fisik : Tidak dijelaskan
b.)    Aspek Psikologi : Tidak dijelaskan
c.)    Aspek Sosial : Tidak dijelaskan
6.)    Burung hantu
d.)    Aspek Fisik : Tidak dijelaskan
e.)    Aspek Psikologi : Tidak memiliki selera humor, karena pada saat dia mendengarkan cerita kejadian Blue-Jay dia tidak menganggapnya sebagai sebuah hal yang lucu.
f.)     Aspek Sosial : Tidak dijelaskan
B.     Klasifikasi Tokoh
1.)    Dilihat dari proporsi sifatnya :
a.)    Flat Character : -
b.)    Round Character : Blue-Jay, Jim Baker & kawanan Blue-Jay
2.)    Dilihat dari perkembangan wataknya :
a.)    Static Character : Jim Baker
b.)    Developing Character : Blue-Jay
3.)    Dilihat dari fungsinya :
a.)    Tokoh Sentral
-          Tokoh Utama Protagonis : Blue-Jay
-          Tokoh Lawan Antagonis : -
-          Wirawan : -
-          Wirawati : -
-          Antiwirawan : -
b.)    Tokoh Bawahan
-          Tokoh Andalan : Jim Baker, kawanan Blue-Jay & Old Jay
-          Tokoh Tambahan : Kucing & burung hantu.

4.     Latar (Setting)
Latar merupakan salah satu unsur intristik yang penting didalam cerita, karena latar berisikan tentang berbagai keterangan yang berhubungan dengan terjadinya peristiwa-peristiwa didalam sebuah cerita. Macam-macam latar yang ada dalam cerita diantaranya adalah latar tempat, latar waktu, latar sosial, dan juga latar ruangan. Di dalam cerpen Jim Baker’s Blue Jay Yarn juga terdapat macam-macam latar yang telah disebutkan tadi, dan dibawah ini latar dari cerpen tersebut telah dikelompokan berdasarkan macam-macamnya, yaitu ;

A.)  Latar Tempat (Setting of Place)
Latar yang pertama adalah latar tempat, latar tempat adalah keterangan dimana tempat kejadian utama dari seluruh peristiwa didalam cerita terjadi.
Berdasarkan apa yang disebutkan oleh sang narator yang terdapat pada awal cerita, latar tempat utama atau latar tempat dari keseluruhan cerita dalam cerpen ini adalah di daerah tempat tinggal Jim Baker yang berada diantara hutan dan gunung di pojokan California yang jauh dari pemukiman penduduk.

B.)   Latar Waktu (Setting of Time)
Selanjutnya, latar kedua adalah latar waktu, latar waktu berisi tentang kronologis waktu cerita.
Latar waktu dari cerita awal tidak disebutkan oleh narator, akan tetapi latar waktu cerita inti dari cerpen ini yaitu tentang cerita pengalaman Baker mengenai kejadian kawanan burung Blue-Jay yang dia saksikan sendiri terjadi pada minggu pagi, 7 tahun kebelakang dari saat Baker menceritakan itu.

C.)   Latar Sosial (Social Setting)
Ketiga, latar sosial adalah keterangan dari segi sosial dari para tokoh yang terdapat dari cerita.
Mengenai latar sosial, karena hanya Jim Baker saja yang merupakan seorang manusia dan dapat digolongkan kelas sosialnya kemudian tokoh-tokoh lain dari cerpen ini adalah hewan dan tidak dapat digolongkan kelas sosialnya. Maka, berdasarkan apa yang dideskripsikan oleh sang narator mengenai Baker yang memiliki profesi sebagai penambang yang berkehidupan sederhana, maka dapat disimpulkan bahwa Baker adalah termasuk seorang yang tergolong dalam kelas sosial menengah kebawah.

D.)  Latar Ruangan (Style of Setting)
Kemudian latar yang terakhir adalah latar ruangan, latar ruangan berisi penjelasan spesifik mengenai tempat-tempat didalam cerita yang didalamnya terjadi peristiwa
-          Di depan kabin Jim Baker
Menurut Baker, pada hari minggu pagi 7 tahun lalu dia bersama kucingnya duduk di depan kabin miliknya untuk berjemur sambil melihat pemandangan bukit biru. Pada saat itu kemudian Baker melihat seekor Blue-Jay yang sedang hinggap diatas rumah kayu dekat rumahnya.
-          Di atap rumah kayu
Bisa dibilang jika atap rumah kayu adalah latar ruangan utama dari cerpen ini karena terdapat konflik yang paling banyak, hal itu disebabkan lubang yang tidak bisa penuh oleh biji-bijian yang dibawa Blue-Jay terdapat disini. Pada bagian akhir cerita semua kawanan Blue-Jay termasuk si Blue-Jay pertama tertawa di atap rumah karena tingkah konyolnya yang hendak mengisi sebuah rumah kayu kosong dengan biji-bijian.
-          Area sekitar rumah kayu
Kawanan Blue-Jay yang sedang membantu Blue-Jay pertama ikut mencari tahu misteri lubang yang tidak bisa penuh itu, salah satu cara yang mereka lakukan adalah dengan memeriksa area di sekitar rumah kayu untuk mencari petunjuk.
-          Di depan pintu rumah kayu
Setelah menyisir daerah sekitar rumah namun tidak menemukan petunjuk apapun, kawanan Blue-Jay kembali ke atap rumah terkecuali seekor Blue-Jay tua yang melihat pintu rumah yang dalam keadaan sedikit terbuka, maka dia pun memanggil semua Blue-Jay untuk masuk kedalam rumah melalui pintu tersebut.
-          Di dalam rumah kayu
Semua Blue-Jay masuk kedalam rumah setelah dipanggil oleh sang Blue-Jay tua, disana mereka menemukan fakta bahwa rumah tersebut kosong dan tidak memiliki pembatas dari atap sampai ke lantainya, kemudian mereka pun menemukan gundukan biji-bijian yang dimasukkan oleh si Blue-Jay pertama.

5.     Tema (Theme)
Tema merupakan unsur intristik dalam cerita yang memiliki definisi sebagai ide atau gagasan pokok yang mendasari sebuah karya sastra. Tema dibagi menjadi dua, yaitu tema major dan tema minor, tema major merupakan sebuah ide pokok dari keseluruhan cerita, sedangkan tema minor adalah tema yang muncul dengan secara lebih spesifik untuk mewakili sebuah peristiwa atau adegan di dalam cerita berdasarkan sudut pandang lain. Selanjutnya dibawah ini akan diuraikan tentang tema major dan minor yang terdapat didalam cerpen Jim Baker’s Blue Jay Yarn;

A.     Tema Major (Major Theme)
Setelah menganalisis keseluruhan cerita berdasarkan peristiwa yang terjadi, maka dapat disimpulkan bahwa tema major dari cerpen ini adalah tentang pengalaman Jim Baker yang menyaksikan sendiri usaha seekor Blue-Jay untuk mengisi lubang yang berada di atap sebuah rumah kayu kosong dengan biji-bijian.

B.     Tema Minor (Minor Theme)
Isi cerpen ini tersusun atas beberapa tema minor, yaitu diantaranya :
1.)    Seseorang dengan kemampuan unik yang dimilikinya (Jim Baker dengan kemampuan dapat mengerti bahasa binatang)
2.)    Insiden yang terjadi pada masa lalu (Pengalaman Jim Baker pada 7 tahun yang lalu)
3.)    Usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan (usaha Blue-Jay pertama untuk mengisi lubang dengan biji-bijian)
4.)    Penderitaan akibat tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan (penderitaan Blue-Jay pertama yang masih tidak dapat mengisi penuh lubang)
5.)    Datangnya bala bantuan (datangnya kawanan Blue-Jay lain untuk membantu Blue-Jay pertama)
6.)    Usaha bersama dalam memecahkan sebuah masalah (usaha Blue-Jay pertama dan kawanannya dalam mengetahui misteri dari lubang di atap rumah kayu)
7.)    Terungkapnya penyebab dari sebuah masalah (kawanan Blue-Jay akhirnya mengetahui penyebab lubang tidak bisa terisi penuh oleh biji-bijian)

6.     Sudut Pandang (Point of View)
Unsur intristik cerita yang selanjutnya adalah sudut pandang atau point of view, sudut pandang merupakan cara yang dilakukan oleh sang penulis dalam menempatkan dirinya pada sebuah karya yang ditulisnya. Penulis menentukan sendiri melalui sudut apa dia menyampaikan segala hal yang terdapat di dalam ceritanya, baik itu tokoh, alur, latar dan lainnya.
Kemudian, Laurence Perrine telah membagi sudut pandang menjadi 4 bagian, yaitu :
-          Omniscient Point of View
-          Limited Omniscient Point of View
-          First Person Point of View
-          Objective Point of View.
Macam-macam metode pencerita yang digunakan oleh penulis didalam sebuah cerita diantaranya adalah :
a.)    Pencerita Akuan
-          Pencerita Akuan Sertaan
-          Pencerita Akuan Terbatas
b.)    Pencerita Diaan (Orang ketiga)
-          Pencerita Diaan Serba Tahu
-          Pencerita Diaan Terbatas
Selanjutnya, sesuai dengan beberapa macam sudut pandang yang di ungkapkan oleh Perrine, maka dapat diketahui jika cerpen Jim Baker’s Blue Jay Yarn yang terbagi atas dua cerita menggunakan dua sudut pandang, yaitu Limited Omnisicient Point of View dan juga Omniscient Point of View.
-          Pertama, cerita ini awalnya menggunakan sudut pandang Limited Omniscient Point of View karena pada bagian awal cerita, sang narator hanya menjelaskan tentang temannya, Jim Baker yang dapat mengerti bahasa dan perilaku binatang, “He was a middle-aged, simple-hearted miner who had lived in a lonely corner of California, among the woods and mountains, a good many years, and had studied the ways of his only neighbors, the beasts and the birds, until he believed he could accurately translate any remark which they made. This was Jim Baker.” (Twain, 1880 : 22). Mengapa pada bagian ini sudut pandang ceritanya termasuk jenis Limited Omniscient Point of View, sebab narator hanya memiliki penjelasan terbatas dalam ceritanya, yaitu dia hanya mengungkapkan segala hal yang dia ketahui tentang Jim Baker seorang. Kemudian, macam penceritanya adalah pencerita diaan terbatas karena apa yang di jelaskan narator mengenai kemampuan Jim Baker bukan atas dasar pengetahuannya sendiri, akan tetapi berdasarkan apa yang dikatakan Baker kepada dirinya “According to Jim Baker, some animals have only a limited education...........” (Twain, 1880 : 22).
-          Kedua, sudut pandang yang digunakan dalam cerita ini adalah Omniscient Point of View, mengapa di kategorikan sebagai jenis sudut pandang tersebut karena isi cerpen ini berubah menjadi cerita Baker tentang sebuah insiden yang disaksikan oleh dirinya sendiri, yaitu ketika Blue-Jay yang berusaha mengisi sebuah lubang di atap rumah kayu di dekat rumah Baker pada tujuh tahun yang lalu, “When I first begun to under stand jay language correctly, there was a little incident happened here. Seven years ago,.......” (Twain, 1880 : 23). Baker menceritakan kisahnya tersebut tidak hanya terbatas dari satu sisi karakter saja, akan tetapi dari keseluruhan karakter, hal ini karena Baker mengetahui segalanya yang terjadi pada insiden tersebut, termasuk dialog antar tokoh, contohnya : “The sufferer told him the whole circumstance, and says, ‘Now yonder’s the hole, and if you don’t believe me, go and look for yourself.’ So this fellow went and looked, and comes back and says, ‘How many did you say you put in there?’ ‘Not any less than two tons,’ says the sufferer.” (Twain, 1880 : 25-26). Kemudian macam penceritanya adalah pencerita akuan tak sertaan, karena Baker sebagai pencerita tidak ikut terlibat di dalam insiden yang dia ceritakan, meskipun pada awalnya dia mengatakan apa yang dilakukannya pada saat insiden itu akan terjadi “Well, one Sunday morning I was sitting out here in front of my cabin, with my cat, taking the sun, and looking at the blue hills, and listening to the leaves rustling so lonely in the trees, and thinking of the home away yonder in the States.” (Twain, 1880 : 23). Akan tetapi seterusnya dia melanjutkan ceritanya berdasarkan apa yang dia saksikan “...that I hadn’t heard from in thirteen years, when a blue jay lit on that house, with an acorn in his mouth, and says, ‘Hello, I reckon I’ve struck something.’When he spoke, the acorn dropped out of his month and rolled down the roof....” (Twain, 1880 : 24). Dan dari bagian tersebut sampai bagian akhir cerita, Baker sama sekali tidak menyebutkan dirinya lagi.

7.     Simbol (Symbolism)
Simbol atau simbolisme dalam karya sastra memiliki arti sebagai sebuah teknik yang digunakan oleh penulis untuk menyembunyikan makna sebenarnya dari suatu ide abstrak yang terdapat didalam tulisannya. Penulis mengaplikasikan simbolisme melalui sebuah objek atau kata yang memiliki arti lebih dari maknanya sendiri. Simbol dapat berbentuk objek, tokoh, situasi, tindakan, tempat atau yang lainnya.
Setelah menganalisis cerpen Jim Baker’s Blue Jay Yarn ini, diperoleh beberapa simbol yang terkandung didalamnya, yaitu diantaranya :
1.)    Jim Baker : Penulis menggambarkan tokoh Jim Baker sebagai simbol dari kesederhanaan, kesendirian dan ketekunan.
2.)    Blue Jay Pertama : Simbol yang terdapat pada tokoh ini adalah kegigihan, kekesalan, penderitaan dan kekonyolan.
3.)    Kawanan Blue Jay : rasa kebersamaan, kesolidan dan juga kekonyolan merupakan simbol yang dimiliki oleh para kawanan burung Blue-Jay.
4.)    Rumah kayu : simbol yang dimilikinya adalah kekosongan dan peninggalan.
5.)    “Lonely corner of California” (Twain, 1880 : 22). : frase ini muncul sebagai simbol yang memberitahukan jika tempat tinggal Jim Baker ini berada di tempat yang jauh dari pemukiman orang lain.
6.)    “You may call a jay a bird...........and don’t belong to no church” (Twain, 1880 : 23). : makna yang terdapat pada simbol ini adalah menunjukkan bahwa Burung Blue-Jay tidak terikat pada sebuah gereja atau dalam istilah lain tidak memiliki agama tentu saja karena mereka adalah binatang.
7.)    “Ignorant people think it’s the noise which fighting cats make that is so aggravating” (Twain, 1880 : 23).: kata noise merupakan simbol yang merujuk pada suara kucing atau menurut pandangan Baker adalah gramatikal dari kucing.
8.)    “He cocked his head to one side.......like a ’possum looking down a jug” (Twain, 1880 : 24). : simbol ini menggambarkan bahwa he (Blue-Jay pertama) melihat isi lubang di atas atap layaknya seekor possum yang sedang mengintip isi dari sebuah kendi.
9.)    “I was sitting out here in front of my cabin....... and thinking of the home away yonder in the States” (Twain, 1880 : 24). : pada simbol ini, penulis menyiratkan bahwa Jim Baker sangat merindukan keluarganya di tempat yang jauh sana.
10.)                         “with the heavenliest smile on his face” (Twain, 1880 : 24). : di dalam bagian ini menggambarkan Blue-Jay pertama yang tersenyum dengan begitu bahagianya.
11.)                        “Was paralyzed into a listening attitude and that smile faded gradually out of his countenance like breath off’n a razor” (Twain, 1880 : 24). : frase ini jika di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia adalah senyuman itu perlahan-lahan hilang bagaikan lapisan kabut yang memudar dari sebuah pisau silet. Makna yang tersembunyi dibaliknya adalah senyuman bahagia dari Blue-Jay pertama yang perlahan-lahan menghilang karena dia kecewa akibat tidak bisa melihat biji yang sudah dia masukkan kedalam lubang.
12.)                        “He studied a while, then he just went into the details” (Twain, 1880 : 24). : details merujuk pada tindakan sebelumnya yang dilakukan oleh Blue-Jay pertama yaitu memeriksa secara rinci lubang atap.
13.)                        “....and cussed himself black in the face” (Twain, 1880 : 25). : black disini memiliki arti negatif atau kejelekan karena frase ini memiliki arti bahwa Blue-Jay pertama mencela dirinya sendiri dengan kata-kata kotor.
14.)                        “He laid into his work like a nigger” (Twain, 1880 : 25). : simbol ini memiliki arti bahwa Blue-Jay pertama menempatkan usahanya untuk mengisi lubang layaknya seorang kulit hitam dalam hal bekerja. Penulis menggunakan kata “nigger” atau negro untuk mengumpamakan usaha keras dari Blue-Jay pertama tersebut karena pada saat karya ini dibuat, orang-orang kulit hitam sangat banyak dijadikan sebagai budak.
15.)                        “He comes adrooping down, once more, sweating like an ice-pitcher” (Twain, 1880 : 25). : disini memiliki arti bahwa Blue-jay pertama berkeringat bagaikan sebuah teko dari kaca yang berisi air es. Penulis mengambil perumpamaan tersebut karena jika sebuah teko yang terbuat dari kaca diisi oleh air es, maka lama-kelamaan akan muncul embun pada bagian luarnya dan akan memberikan kesan bahwa teko tersebut berkeringat.
16.)                        “They all came a-swooping down like a blue cloud” (Twain, 1880 : 26).  : simbol yang terdapat disini menyatakan bahwa para kawanan Blue-Jay yang sangat banyak itu terbang turun kebawah secara bersamaan sehingga membentuk seperti sebuah awan biru.

8.     Ironi (Irony)
Ironi di dalam karya sastra merupakan istilah yang digunakan ketika adanya perbedaan antara pengharapan dan kejadian yang sebenarnya terjadi pada sebuah cerita.
Ironi diklasifikasikan menjadi 3 jenis, yaitu Verbal Irony, Irony of Situation dan Dramatic Irony.
A.)  Verbal Irony
Ironi jenis ini terjadi pada saat tokoh dalam cerita berbicara atau mengekspresikan sesuatu bertentangan dengan maksud sebenarnya yang ingin dikatakan atau diungkapkan oleh tokoh tersebut.
Verbal Irony yang terdapat didalam Jim Baker’s Blue-Jay Yarn :
-          Setelah dilakukan analisis secara keseluruhan tidak terdapat satupun Verbal Irony didalam cerpen ini.
B.)   Irony of Situation
Merupakan situasi di dalam cerita yang terjadi tidak sesuai atau berlawanan dengan apa yang pembaca harapkan.
Dalam cerpen Jim Baker’s Blue-Jay Yarn, yang termasuk Irony of Situation diantaranya adalah :
1.)    Ketika Blue-Jay pertama sudah memasukkan banyak sekali biji-bijian ke dalam lubang atap namun masih belum bisa membuatnya terisi penuh. Saya sebagai pembaca mengira bahwa Blue-Jay tersebut akan menyerah dan menghentikan usahanya, akan tetapi pada kenyataannya dia malah semakin terdorong untuk melanjutkan usahanya untuk dapat mengisi penuh lubang atap dengan biji-bijian.
2.)    Saat beberapa Blue-Jay lain datang untuk menghampiri Blue-Jay pertama dan menanyakan apa yang sedang dilakukan olehnya, setelah mendapat jawaban dari Blue-Jay pertama bahwa dia saat itu sedang kebingungan terhadap lubang atap yang belum bisa terisi penuh meskipun dia sudah memasukkan banyak sekali biji-bijian. Pikir saya, kawanan Blue-Jay tadi akan mengajak Blue-Jay pertama untuk menghentikan usahanya karena yang dilakukannya itu sia-sia saja, akan tetapi mereka menjadi ikut penasaran pada lubang atap tersebut dengan memeriksanya dan kawanan Blue-Jay lain pun banyak yang berdatangan untuk ikut melihat lubang atap itu.
3.)    Pada saat kawanan Blue-Jay memeriksa rumah kayu dan area sekitarnya untuk mencari petunjuk mengenai misteri lubang di atap, ada seekor Blue-Jay tua yang melihat pintu dari rumah kayu itu sedikit terbuka. Blue-Jay itu pun langsung mengintip kedalam isinya dan melihat ada banyak biji-bijian yang tergeletak di lantai rumah kayu dan kemudian dia memanggil Blue-Jay lain untuk masuk kesana juga. Sebelumnya saya mengira bahwa tak ada seekor Blue-Jay pun yang dapat mengungkap rahasia dari misteri lubang itu, namun akhirnya seekor Blue-Jay tua tersebut menjadi pembeda karena dapat menjadi pembuka jalan menuju pemecahan misteri itu karena saat semua Blue-Jay memasuki rumah kayu mereka menemukan fakta bahwa tidak ada yang membatasi lubang atap dan lantai dari rumah kayu.
4.)    Setelah mengetahui bahwa yang dilakukan oleh si Blue-Jay pertama merupakan sebuah bentuk kekonyolan, para kawanan Blue-Jay pun kemudian tertawa terbahak-bahak akan hal itu. Sebelumnya saya menebak jika si Blue-Jay pertama akan merasa sangat kesal karena ditertawakan oleh mereka semua, namun kenyataannya lain, bukannya kesal atau marah akan tetapi dia malah ikut bergabung dengan mereka untuk menertawakan tindakan konyolnya. Si Blue-Jay pertama ikut tertawa karena dia pikir bahwa kekonyolan yang dilakukannya tadi sangatlah lucu, dan ini pun membuktikan kebenaran dari perkataanJim Baker yang menyebutkan sifat humoris merupakan salah satu sifat yang dimiliki oleh semua Blue-Jay.
5.)    Setiap musim panas selama hampir tiga tahun, para kawanan Blue-Jay tadi membawa Blue-Jay lainnya dari seluruh daerah Amerika Serikat untuk melihat lubang atap sambil mendengarkan cerita mereka tentang tindakan konyol dari si Blue-Jay pertama. Saya mengira setelah insiden tadi berakhir kawanan Blue-Jay akan melupakannya, tetapi mereka terus saja mengingatnya dan bahkan mencoba agar semua Blue-Jay dari seluruh daratan Amerika Serikat untuk mengetahui kejadian itu.
C.)   Dramatic Irony
Ironi berupa perbedaan antara pemikiran dari pembaca dan apa yang tokoh dalam cerita pikirkan, bisa jadi saat pembaca mengetahui sesuatu hal yang terjadi dalam sebuah situasi yang tidak diketahui oleh para tokoh.
-          Satu-satunya Dramatic irony dan yang dapat dianggap sebagai penyebab utama adanya kejadian Blue-Jay itu adalah karena Blue-Jay pertama dan juga kawanannya tidak mengetahui bahwa tidak ada yang membatasi langit-langit rumah kayu dengan lantainya, hal itu menyebabkan biji-bijian yang dimasukkan kedalam lubang langsung jatuh ke lantai rumah kayu. Meskipun Blue-Jay pertama memasukkan begitu banyak biji kedalamnya, tetapi untuk membuat lubang atap itu terisi penuh memerlukan waktu yang sangat lama sekali karena rumah kayu kosong itu sangat besar dan juga mustahil untuk dapat diisi oleh biji-bijian yang kecil itu. Sedangkan disisi lain, pembaca sudah mengetahui fakta dari rumah kayu tersebut karena telah  Baker yaitu, “Seven years ago, the last man in this region but me, moved away. There stands his house, been empty ever since; a log house, with a plank roof just one big room, and no more; no ceiling nothing between the rafters and the floor.” (Twain, 1880 : 24).

9.     Pesan Moral
Unsur intristik selanjutnya adalah Pesan moral, merupakan suatu hikmah atau pelajaran yang bisa dipetik mengenai baik atau buruknya sesuatu hal yang terdapat di dalam cerita. Pesan moral bisa berasal dari hal yang postitif maupun negatif, namun harus selalu dalam pengertian yang baik. Pesan moral bisa diangkat perkonflik, yaitu diantaranya konflik antara : man againts man, man againts environment (komunitas manusia), man againts environment (linkungan alam), dan man againts god (konflik batin/konflik internal si man tersebut).
Setelah dilakukan analisis, pesan moral yang terdapat dalam cerpen Jim Baker’s Blue-Jay Yarn berdasarkan konflik yang terjadi di dalamnya adalah :
A.)  Man Againts Environment
-          Blue-Jay Pertama VS Lubang di Atap Rumah Kayu
Pelajaran yang bisa kita ambil dari konflik ini adalah kita harus terus berjuang untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan, meskipun terus mengalami kegagalan kita harus terus mencoba agar dapat mencapainya.
B.)   Man Againts God (Konflik Batin/Internal)
-          Blue-Jay Pertama VS Dirinya Sendiri
Hikmah yang terdapat di dalam konflik ini adalah kita harus pantang menyerah terhadap segala usaha yang kita lakukan untuk mencapai sesuatu yang sangat kita ingin-inginkan.

10.            Aspek Didaktis
Kemudian, Aspek Didaktis adalah salah satu unsur intristik cerita yang memiliki arti sebagai pembelajaran yang terdapat pada sifat-sifat atau tindakan-tindakan dari para tokoh di dalam cerita. Pembelajaran tersebut haruslah berisi nilai ajaran yang baik (mendidik), karena memiliki tujuan untuk membuat para pembaca dapat menerapkan hal positif tersebut kedalam kehidupannya. Ada 3 Jenis Aspek di dalam Didaktis, yaitu : Aspek Religi, Aspek Moral, dan Aspek Sosial.
Setelah dianalisis, dalam cerpen “Jim Baker’s Blue-Jay Yarn” terdapat Aspek Moral dan Aspek Sosial, nilai-nilai positif pada cerita yang termasuk kedalam aspek-aspek tersebut adalah :
A.)  Aspek Moral
-          Kerja Keras : Ketika Blue-Jay pertama berjuang dengan begitu kerasnya untuk membuat lubang di atap rumah kayu menjadi penuh dengan biji-bijian yang dia masukkan. Meskipun pada akhir cerita usaha keras yang dilakukannya hanya sia-sia saja, namun kita bisa meneladani apa yang di lakukan oleh Blue-Jay pertama, yaitu kerja keras adalah upaya yang harus dilakukan dalam usaha seseorang untuk mencapai sebuah harapan yang diingin-inginkan.
-          Pantang Menyerah : Saat Blue-Jay pertama hampir putus asa karena lubang atap rumah kayu masih belum penuh meskipun dia telah berusaha keras untuk mengisinya, dia memutuskan untuk tidak menyerah dan tetap melanjutkan apa yang dilakukannya. Pembelajaran positifnya adalah menyerah bukanlah hal yang patut dilakukan ketika segala usaha yang dilakukan masih belum bisa memberikan sebuah hasil. Seseorang harus terus berada pada jalannya untuk tetap berjuang dan pantang menyerah dalam usaha untuk mencapai segala yang diinginkan.
-          Tolong Menolong : Pada saat Blue-Jay pertama begitu menderita karena usahanya yang masih belum membuahkan hasil, para Blue-Jay lain datang untuk membantunya dalam memecahkan misteri lubang atap yang tidak bisa penuh tersebut. Ajaran baik yang terkandung didalamnya adalah pada saat kita melihat seseorang yang sedang mengalami masalah terutama orang yang kita kenal, kita harus bisa membantunya untuk dapat menyelesaikan masalahnya tersebut.
B.)   Aspek Sosial
-          Gotong Royong : Kawanan Blue-Jay yang saling bergotong-royong untuk mencari tahu penyebab lubang atap yang tidak bisa penuh. Mereka melakukan berbagai cara yaitu dengan mencari petunjuk di daerah sekitar rumah kayu dan juga mereka saling berdiskusi untuk mengungkapkan pendapatnya masing-masing mengenai lubang tersebut. Nilai positif yang bisa dijadikan pembelajaran adalah dengan melakukan gotong-royong, hal yang dianggap begitu berat jika dilakukan sendiri akan menjadi lebih mudah apabila dilakukan secara bersama-sama (dengan gotong royong). Selain itu, dengan melakukan gotong royong hubungan antar individu dapat menjadi semakin erat dan kokoh.

11.            Emosi
Unsur intristik terakhir yang terdapat dalam cerita pendek adalah Emosi, emosi di dalam cerpen sendiri memiliki arti berbagai perasaan yang dialami oleh tokoh-tokoh pada cerita. Emosi yang muncul tersebut diantaranya adalah rasa senang, takut, sedih, kaget, cemas, tertawa, menangis, terharu, dsb.
Setelah dilakukan analisis, Emosi yang muncul pada cerpen Jim Baker’s Blue-Jay Yarn diantaranya adalah :
A.)  Senang/bahagia
-          Ketika Blue-Jay pertama menemukan sebuah lubang di atap rumah kayu, “Then he cocked his head down and took an other look; he glances up perfectly joyful, this time; wink his wings and his tail both,..................and was just tilting his head back, with the heavenliest smile on his face,....” (Twain, 1880 : 24).
B.)   Terkejut/kaget
-          Disaat Blue-Jay pertama terkejut karena dia tidak mendengar suara biji yang dimasukan olehnya jatuh pada dasar lubang atap , “.....that smile faded gradually out of his countenance like breath off’n a razor, and the queerest look of surprise took its place. Then he says, ‘Why I didn’t hear it fall!...” (Twain, 1880 : 24).
C.)   Marah/kesal
-          Pada saat Blue-Jay pertama begitu marah dan kesal terhadap lubang di atap karena dia masih saja tidak bisa membuat lubang itu penuh. “Then he begun to get mad. He held in for a spell,.............‘Well, you’re a long hole, and a deep hole, and a mighty singular hole altogether— but I’ve started in to fill you, and I’m d— d if I don’t fill you, if it takes a hundred years!’ (Twain, 1880 : 25).
“.......when his head come up again he was just pale with rage. He says, ‘I’ve shoveled acorns enough in there to keep the family thirty years, and if I can see a sign of one of ’em I wish I may land in a museum with a belly full of sawdust in two minutes!” (Twain, 1880 : 25).
D.)  Tertawa
-          Saat kawanan Blue-Jay menertawakan tindakan konyol yang telah dilakukan oleh Blue-Jay pertama yang ingin mengisi lubang atap dengan biji-bijian, “......... the whole absurdity of the contract that that first jay had tackled hit him home and he fell over backwards suffocating with laughter, and the next jay took his place and done the same.” (Twain, 1880 : 26).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Analisis Unsur Intristik Cerita Pendek “Jim Baker’s Blue-Jay Yarn” karya Mark Twain

Analisis Unsur Intristik pada Cerita Pendek “Jim Baker’s Blue-Jay Yarn” karya Mark Twain Oleh : Nama               : Ilham Maulana F...